Senin, 28 Agustus 2017
Jumat, 25 Agustus 2017
Sistem Pernapasan Manusia
Ringkasan
Pernapasan pada manusia mencakup dua proses, yaitu :
1. Pernapasan eksternal
adalah
pernapasan dimana pertukaran oksigen dan karbon dioksida yang terjadi antara
udara dalam gelembung paru-paru dengan darah dalam kapiler.
2. Pernapasan internal
adalah
pernapasan dimana pertukaran oksigen dan karbon dioksida antara darah dalam
kapiler dengan sel-sel jaringan tubuh.
Dalam proses pernapasan, oksigen dibutuhkan untuk oksidasi (pembakaran) zat makanan. Zat
makanan yang dioksidasi tersebut yaitu gula (glukosa). Glukosa merupakan zat
makanan yang mengandung energi. Proses oksidasi zat makanan, yaitu glukosa,
bertujuan untuk menghasilkan energi. Jadi, pernapasan atau respirasi yang
dilakukan organisme bertujuan untuk mengambil energi yang terkandung di dalam makanan.
Hasil utama pernapasan
adalah energi. Energi yang dihasilkan
digunakan untuk aktivitas hidup, misalnya untuk pertumbuhan, mempertahankan
suhu tubuh, pembelahan sel-sel tubuh, dan kontraksi otot
Sistem Pernapasan pada Manusia
Manusia bernapas secara tidak langsung. Artinya, udara
untuk pernapasan tidak berdifusi secara langsung melalui permukaan kulit.
Difusi udara untuk pernapasan pada manusia terjadi di bagian dalam tubuh, yaitu
gelembung paru-paru (alveolus). Pada pernapasan secara tidak langsung, udara
masuk ke dalam tubuh manusia dengan perantara alat-alat pernapasan.
Alat-alat Pernapasan
pada manusia terdiri dari rongga hidung, faring (tekak), laring
(pangkal tenggorokan), trakea (batang tenggorokan), bronkus (cabang
tenggorokan), dan pulmo (paru-paru).
1. Rongga Hidung
Rongga hidung merupakan jalan masuk oksigen untuk
pernapasan, dan jalan keluar karbon dioksida serta uap air sisa pernapasan. Di
dalam rongga hidung terjadi penyaringan udara dari debu-debu yang masuk bersama
udara. Udara yang masuk ke dalam rongga hidung juga mengalami proses
penghangatan agar sesuai dengan suhu tubuh kita. Demikian juga pula kelembapan
udara diatur agar sesuai dengan kelembapan tubuh kita.
2. Faring (tekak)
Faring berbentuk seperti tabung corong yang terletak di
belakang rongga hidung dan mulut. Faring berfungsi sebagai jalan bagi udara dan
makanan. Selain itu, faring juga berfungsi sebagai ruang getar untuk
menghasilkan suara.
3. Laring (pangkal tenggorokan)
Laring terdapat di antara faring dan trakea. Dinding laring
tersusun dari sembilan buah tulang rawan. Salah satu tulang rawan tersusun dari
dua lempeng kartilago hialin yang menyatu dan membentuk segitiga. Bagian ini
disebut jakun.
Di dalam laring
terdapat epiglotis dan pita suara.Epiglotis merupakan
kartilago elastis yang berbentuk seperti daun. Epiglotis dapat membuka dan
menutup. Pada saat menelan makanan, epiglotis menutup sehingga makanan tidak
masuk ke tenggorokan tetapi menuju kerongkongan. Pita
suara merupakan
selaput lendir yang membentuk dua pasang lipatan dan dapat bergetar
menghasilkan suara.
4. Trakea (batang tenggorokan)
Trakea berbentuk
seperti pipa yang terletak memanjang di bagian leher dan rongga dada (toraks).
Trakea tersusun dari cincin tulang rawan dan otot polos. Dinding bagian dalam
trakea berlapis sel-sel epitel berambut getar (silia) dan selaput lendir.
Trakea bercabang dua, yang satu menuju paru-paru kiri dan yang lain menuju
paru-paru kanan. Cabang trakea disebut bronkus.
5. Pulmo (paru-paru)
Paru-paru terletak di
dalam rongga dada bagian atas. Rongga dada dan rongga perut dipisahkan oleh
sekat, yaitu diafragma. Paru-paru terbagi
menjadi dua bagian, yaitu paru-paru kanan dan paru-paru kiri. Paru-paru kanan
terdiri dari tiga gelambir dan paru-paru kiri terdiri dari dua gelambir.
Paru-paru dibungkus oleh selaput paru-paru tipis yang disebut pleura.
Di dalam paru-paru,
masing-masing bronkus bercabang-cabang membentuk bronkiolus.
Selanjutnya, bronkiolus bercabang-cabang menjadi pembuluh halus yang berakhir
pada gelembung paru-paru yang disebut alveolus (jamak = alveoli). Alveoli
menyerupai busa atau sarang tawon. Jumlah alveoli kurang lebih 300 juta.
Dinding alveolus sangat tipis dan elastis. Pada alveolus inilah terjadi difusi
atau pertukaran gas pernapasan, yaitu oksigen dan karbon dioksida.
Alveoli yang terdapat di dalam paru-paru manusia
diafragma = otot utama yg
digunakan dalam proses menarik dan mengeluarkan napas, terletak di bawah rongga
dada berbentuk seperti kubah. memisahkan jantung dan paru-paru dengan organ
perut.
Mekanisme Pernapasan
Pernapasan merupakan suatu proses yang terjadi dengan
sendirinya (secara otomatis). Walaupun kita dalam keadaan tidur, proses
pernapasan berjalan terus. Pada saat kita bernapas ada dua proses yang terjadi
yaitu inspirasi (proses masuknya udara ke dalam paru-paru) dan ekspirasi
(proses keluarnya udara dari paru-paru). Inspirasi dan ekspirasi terjadi antara
15 – 18 kali setiap menit. Proses inspirasi dan ekspirasi diatur oleh otot-otot
diafragma dan otot antar tulang rusuk.
1. Pernapasan Dada
Terjadi karena aktivitas otot antartulang rusuk. Bila otot
antartulang rusuk berkerut (berkontraksi), maka tulang-tulang rusuk akan
terangkat dan volume rongga dada akan membesar. Keadaan ini menyebabkan
penurunan tekanan udara di dalam paru-paru. Karena tekanan udara di luar tubuh
lebih besar, maka udara dari luar yang kaya oksigen masuk ke dalam paru-paru.
Dengan demikian terjadilah inspirasi.
Pada saat insipirasi (a) rongga dada membesar dan (b) diafragma mendatar
Bila otot-otot antartulang rusuk mengendor (relakasasi),
yaitu kembali pada posisi semula, maka tulang-tulang rusuk akan tertekan.
Akibatnya, volume rongga dada mengecil. Keadaan ini mengakibatkan naiknya
tekanan udara di dalam paru-paru.
2. Pernapasan Perut
Pernapasan perut terjadi karena aktivitas otot-otot
diafragma yang membatasi rongga perut dan rongga dada. Bila otot diafragma
berkontraksi, maka diafragma akan mendatar. Keadaan ini mengakibatkan rongga
dada membesar sehingga tekanan udara di paru-paru mengecil. Akibatnya, udara luar
yang kaya oksigen masuk ke dalam paru-paru melalui saluran pernapasan. Dengan
demikian, terjadilah inspirasi.
Pada saat ekspirasi (a) rongga dada mengecil dan (b) diafragma melengkung ke atas
Sebaliknya, bila otot diafragma relaksasi (kembali pada
posisi semula), maka kedudukan diafragma melengkung ke atas. Keadaan ini
mengakibatkan rongga dada membesar. Akibatnya, udara dari paru-paru yang kaya
karbon dioksida terdorong ke luar. Dengan demikian terjadilah ekspirasi.
Rabu, 23 Agustus 2017
Kelainan Tulang dan Otot
Kelainan Tulang dan Otot
1. Kelainan Pada Tulang (rangka)
Kelainan dan gangguan pada tulang dapat disebabkan oleh
beberapa Faktor, misalnya karena kelainan yang dibawa sejak lahir, infeksi
penyakit, karena makanan atau kebiasaan posisi tubuh yang salah. Beberapa
contoh kelainan pada tulang dan rangka, antara lain :
a. Kifosis
Yaitu kelainan tulang punggung membengkok ke depan,
dikarenakan kebiasaan duduk/bekerja dengan posisi membungkuk.
b. Skoliosis
Yaitu kelainan tulang punggung membengkok ke samping, ini
dapat tejadi pada orang yang menderita sakit jantung yang menahan rasa
sakitnya, sehingga terbiasa miring dan mengakibatkan tulang pung- gungnya
menjadi miring.
c. Lordosis
Yaitu kelainan tulang punggung membengko ke belakang,
dikarenakan kebiasaan tidur yang pinggangnya diganjal bantal.
d. Rakhitis
Yaitu kelainan pada tulang akibat kekurangan vitamin D,
sehingga kakinya berbentuk X atau O
e. Polio
Yaitu kelainan pada tulang yang disebabkan oleh virus,
sehingga keadaan tulangnya mengecil dan abnormal.
2. Kelainan Pada Otot
Kelainan otot pada manusia dapat diakibatkan adanya gerak
dan kerja otot. Hal Ini dapat terjadi akibat gangguan faktor luar maupun faktor
dalam.
Faktor luar dapat diakibatkan karena kecelakaan dan serangan
penyakit, sedang faktor dalam bisa terjadi karena bawaan atau kesalahan gerak
akibat otot yang tidak pernah dilatih.
Beberapa contoh kelainan pada otot, diantaranya:
1) tetanus kelainan otot yang tegang
terus menerus yang disebabkan oleh racun bakteri.
2) atrofi otot kelainan yang
menyebabkan otot mengecil akibat serangan virus polio atau karena otot tidak
difungsikan lagi untuk bergerak, akibat lumpuh
3) kaku leher (stiff) Kelainan yang
terjadi karena gerak hentakan yang menyebabkan otot Trapesius meradang.
4) kram kelainan otot yang terjadi
karena aktivitas otot yang terus menerus sehingga otot menjadi kejang.
5) keseleo (terkilir) kelainan otot
yang terjadi jika gerak sinergis salah satu otot bekerja berlawanan arah.
Pernapasan Pada Hewan
Pernafasan disebut juga dengan Respirasi.
Bernafas dapat didefinisikan sebagai suatu proses memasukkan
(Menghirup) oksigen (O2) ke dalam tubuh guna membantu proses pembakaran
(oksidasi) makanan untuk menghasilkan energi, kemudian mengeluarkan karbondioksida
dan uap air (H2O)
Bernafas dapat didefinisikan sebagai suatu proses memasukkan
(Menghirup) oksigen (O2) ke dalam tubuh guna membantu proses pembakaran
(oksidasi) makanan untuk menghasilkan energi, karbondioksida dan uap air (H2O).
Energi yang dihasilkan digunakan tubuh untuk melakukan berbagai aktifitas, sedangkan sisa pembakaran yakni karbondioksida dan uap air akan dikeluarkan dari dalam tubuh.
Meski bernafas pada setiap hewan memiliki tujuan yang sama, namun dalam melakukan pernafasan, beberapa jenis hewan memiliki cara bernafas yang berbeda-beda.
Energi yang dihasilkan digunakan tubuh untuk melakukan berbagai aktifitas, sedangkan sisa pembakaran yakni karbondioksida dan uap air akan dikeluarkan dari dalam tubuh.
Meski bernafas pada setiap hewan memiliki tujuan yang sama, namun dalam melakukan pernafasan, beberapa jenis hewan memiliki cara bernafas yang berbeda-beda.
Sistem
pernafasan Hewan
Beberapa sistem pernafasan pada hewan, antara lain:
1. Burung (Aves)
Sistem Pernafasan
pada Hewan sejenis Unggas atau Burung (AVES). Bernafas dengan menggunakan Paru-paru. Burung memiliki alat pernafasan khusus yang
disebut dengan kantung udara (Pundi-pundi udara) yang terhubung ke saluran
paru-paru.
Pada saat burung terbang atau mengepakkan sayapnya, burung bernafas tidak melalui hidung, melainkan bernafas dengan memanfaatkan oksigen yang tersedia di dalam kantung udara (Pundi-pundi) yang dimasukkan ke dalam paru-paru.
Pada saat burung terbang atau mengepakkan sayapnya, burung bernafas tidak melalui hidung, melainkan bernafas dengan memanfaatkan oksigen yang tersedia di dalam kantung udara (Pundi-pundi) yang dimasukkan ke dalam paru-paru.
Kemudian, saat burung tidak
mengepakkan sayapnya, baik itu saat melayang diudara atau saat hinggap di
darat. Burung kembali bernafas melaui hidung dan mengisi kantung udara
(pundi-pundi) untuk persediaan oksigen saat terbang (mengepakkan sayap)
berikutnya.
Proses pernafasan pada Burung:
Oksigen masuk melalui Hidung - tenggorokan - Pundi-pundi udara - Paru-paru.
Oksigen masuk melalui Hidung - tenggorokan - Pundi-pundi udara - Paru-paru.
2. Reptil
Sistem Pernafasan pada hewan jenis Reptil.
Hewan jenis Reptil (Hewan melata), Seperti misalnya Kura-kura, kadal, komodo, biawak, buaya bernafas menggunakan paru-paru.
Keunikan dari hewan jenis reptil adalah memiliki katup pada saluran pernafasannya, pada saat berada di dalam air hewan jenis reptil dapat menutup katup saluran pernafasan yang terdapat pada hidung, batang tenggorok, sehingga air tidak masuk ke dalam paru-paru.
Proses pernafasan pada Reptil:
Oksigen masuk melalui Hidung - batang tenggorokan - Paru-paru
Hewan jenis Reptil (Hewan melata), Seperti misalnya Kura-kura, kadal, komodo, biawak, buaya bernafas menggunakan paru-paru.
Keunikan dari hewan jenis reptil adalah memiliki katup pada saluran pernafasannya, pada saat berada di dalam air hewan jenis reptil dapat menutup katup saluran pernafasan yang terdapat pada hidung, batang tenggorok, sehingga air tidak masuk ke dalam paru-paru.
Proses pernafasan pada Reptil:
Oksigen masuk melalui Hidung - batang tenggorokan - Paru-paru
3. Amfibi
Sistem Pernafasan
pada hewan jenis Amfibi. Hewan yang dapat hidup di air maupun di darat.
Sistem pernafasan pada hewan jenis Amfibi menggunakan beberapa cara, yaitu menggunakan Paru-paru, insang dan kulit.
Seperti misalnya sistem pernafasan pada Katak
Katak yang masih bayi berupa larva yang hidup di dalam air, bernafas menggunakan Insang luar yang berada di bagian belakang kepalanya. Katak yang berusia 9 hari disebut berudu, bernafas menggunakan insang dalam. Katak dewasa yang sudah dapat hidup di darat maupun di air melakukan pernafasan dengan menggunakan paru-paru dan kulit.
Sistem pernafasan pada hewan jenis Amfibi menggunakan beberapa cara, yaitu menggunakan Paru-paru, insang dan kulit.
Seperti misalnya sistem pernafasan pada Katak
Katak yang masih bayi berupa larva yang hidup di dalam air, bernafas menggunakan Insang luar yang berada di bagian belakang kepalanya. Katak yang berusia 9 hari disebut berudu, bernafas menggunakan insang dalam. Katak dewasa yang sudah dapat hidup di darat maupun di air melakukan pernafasan dengan menggunakan paru-paru dan kulit.
4. Ikan
(Pisces)
Sistem Pernafasan pada ikan (Pisces) menggunakan insang yang
berjumlah 4 pasang.
4 pasang insang tersebut terletak pada kepala
sebelah kanan dan kiri kepalanya, dan dilindungi oleh tutup insang.
Pernafasan pada ikan dilakukan dengan cara:
Saat ikan membuka mulutnya, air masuk ke dalam rongga mulut sementara tutup insang tertutup. Air yang masuk kedalam rongga mulut tersebut mengandung oksigen, kemudian oksigen tersebut diikat oleh pembuluh kapiler yang terdapat pada insang. Kemudian saat mulut ikan tertutup, maka tutup insang akan terbuka untuk mengeluarkan air dan karbondioksida melalui lembaran insang. Ikan juga memiliki gelembung renang yang berfungsi sebagai pengaturan naik-turun ikan di dalam air, dan sebagai tempat penyimpanan cadangan oksigen.
Selain itu untuk beberapa jenis ikan yang hidup di daerah air yang kurang atau hidup di lumpur, seperti ikan lele dan ikan gabus. Memiliki bagian pernafasan yang disebut dengan labirin.
Labirin atau lembaran-lembaran insang pada ikan tersebut berfungsi sebagai tempat menyimpan persediaan oksigen untuk bernafas.
Pernafasan pada ikan dilakukan dengan cara:
Saat ikan membuka mulutnya, air masuk ke dalam rongga mulut sementara tutup insang tertutup. Air yang masuk kedalam rongga mulut tersebut mengandung oksigen, kemudian oksigen tersebut diikat oleh pembuluh kapiler yang terdapat pada insang. Kemudian saat mulut ikan tertutup, maka tutup insang akan terbuka untuk mengeluarkan air dan karbondioksida melalui lembaran insang. Ikan juga memiliki gelembung renang yang berfungsi sebagai pengaturan naik-turun ikan di dalam air, dan sebagai tempat penyimpanan cadangan oksigen.
Selain itu untuk beberapa jenis ikan yang hidup di daerah air yang kurang atau hidup di lumpur, seperti ikan lele dan ikan gabus. Memiliki bagian pernafasan yang disebut dengan labirin.
Labirin atau lembaran-lembaran insang pada ikan tersebut berfungsi sebagai tempat menyimpan persediaan oksigen untuk bernafas.
5. Cacing
Sistem Pernafasan pada Cacing. Bernafas dengan menggunakan
permukaan kulit. Permukaan kulit pada cacing mengandung lendir, lendir ini
berfungsi untuk menjaga kondisi pemukaan kulitnya agar selalu basah agar oksigen
dapat lebih mudah masuk dan diedarkan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah,
dan mengeluarkan karbondioksida melalui kulit tersebut.
6. Mamalia
Sistem Pernafasan pada hewan jenis Mamalia. Hewan menyusui
anak-anaknya. Hewan jenis mamalia (Menyusui) ada yang hidup di darat dan ada
yang hidup di air.
Hewan mamalia yang hidup di darat, seperti: Kerbau, kambing, kucing, sapi, gajah, harimau dan lainnya.
Hewan mamalia yang hidup di darat, seperti: Kerbau, kambing, kucing, sapi, gajah, harimau dan lainnya.
Hewan mamalia yang hidup di air, seperti:
Ikan paus dan ikan lumba-lumba.
Hewan jenis mamalia, baik yang hidup di darat maupun yang
hidup di air, bernafas menggunakan paru-paru.
Pernafasan hewan mamalia memerlukan oksigen di udara, oleh karena itulah Ikan paus dan lumba-lumba sering naik ke permukaan air untuk menghirup oksigen di udara.
Pernafasan hewan mamalia memerlukan oksigen di udara, oleh karena itulah Ikan paus dan lumba-lumba sering naik ke permukaan air untuk menghirup oksigen di udara.
7.Serangga
(Insecta)
Sistem pernafasan pada hewan jenis serangga. Seperti:
Belalang, Capung, lalat, rayap dan lainnya.
Hewan jenis Serangga bernafas dengan menggunakan Trakea.
Trakea merupakan bagian yang berupa pembuluh-pembuluh halus yang bercabang-cabang memenuhi seluruh bagian tubuh serangga.
Pembuluh-pembuluh halus yang dimiliki Trakea tersebut bermuara pada satu bagian yang disebut dengan Spirakel.
Hewan jenis Serangga bernafas dengan menggunakan Trakea.
Trakea merupakan bagian yang berupa pembuluh-pembuluh halus yang bercabang-cabang memenuhi seluruh bagian tubuh serangga.
Pembuluh-pembuluh halus yang dimiliki Trakea tersebut bermuara pada satu bagian yang disebut dengan Spirakel.
Spirakel ditutupi
oleh bulu-bulu yang halus dan berfungsi sebagai penyaring debu atau kotoran,
sehingga udara/oksigen yang masuk ke Trakea menjadi bersih.
Kemudian Udara/oksigen yang masuk ke
trakea melewati Trakeola yang terhubung dengan
Membran Sel.
Bagian yang disebut dengan Trakeola
memiliki ujung pembuluh yang kecil dan mengandung sejenis cairan berwarna biru
tua.
Oksigen masuk melalui trakeola
menuju sel tubuh, dan Karbondioksida akan dikeluarkan kembali melalui Trakeola
melewati Trakea lalu dibuang ke luar.
Keluar masuknya Udara/Oksigen
disebabkan oleh pergerakan otot tubuh serangga secara teratur.
Selasa, 15 Agustus 2017
Jenis otot
Otot adalah sebuah jaringan dalam
tubuh manusia dan hewan yang berfungsi sebagai alat gerak aktif yang
menggerakkan tulang. Otot diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu otot lurik,
otot polos dan otot jantung. Otot menyebabkan pergerakan suatu organisme maupun
pergerakan dari organ dalam organisme tersebut.
Macam-macam
Jenis Otot
1.
Otot Lurik/ otot rangka
Otot ini jika dilihat
menggunakan mikroskop akan tampak bagian gelap dan terang (lurik). Otot lurik
merupakan otot yang berfungsi dalam melakukan gerakan. Otot ini menunjang
pergerakan, bekerja sama dengan tulang untuk pergerakan. Memendeknya
(kontraksi) otot lurik dapat dikendalikan sesuai dengan kemauan manusia,
relaksasi (memanjang, mengendur). Terdapat pada tulang yang digunakan pada pergerakan, seperti pada otot betis
pada tulang kaki
2.
Otot Polos
Otot ini jika dilihat
menggunakan mikroskop tampak polos. Tidak ada bagian yang gelap dan terang
seperti halnya pada otot lurik. Otot polos merupakan penyusun organ organ tubuh
bagian dalam, misalnya saluran pencernaan dan saluran pernapasan. Kontraksi
otot polos tidak dapat dikendalikan secara sadar sehingga kamu tidak dapat
menentukan kapan usus harus berkontraksi dan kapan harus berhenti. Otot polos
bekerja di luar kesadaran manusia (involunter), bekerja secara lambat namun dapat
bekerja dengan waktu lama. Otot polos banyak terdapat pada organ-organ
pencernaan.
3.
Otot Jantung
Otot jantung tampak
seperti otot lurik, namun kontraksi otot ini tidak dapat dikendalikan secara
sadar. Oleh karena itu, kamu tidak dapat mengendalikan kapan jantung harus
berdenyut cepat dan kapan harus berdenyut lambat.
Kerja Otot Manusia
Otot manusia bekerja dengan cara berkontraksi sehingga otot akan memendek, mengeras dan bagian tengahnya menggelembung membesar). Karena memendek maka tulang yang dilekati oleh otot tersebut akan tertarik atau terangkat. Kontraksi satu macam otot hanya mampu untuk menggerakkan tulang kesatu arah tertentu. Agar tulang dapat kembali ke posisi semula, otot tersebut harus mengadakan relaksasi dan tulang harus ditarik ke posisi semula. Untuk itu harus ada otot lain yang berkontraksi yang merupakan kebalikan dari kerja otot pertama. Jadi, untuk menggerakkan tulang dari satu posisi ke posisi yang lain, kemudian kembali ke posisi semula diperlukan paling sedikit dua macam otot dengan kerja yang berbeda.
Berdasarkan cara kerjanya, otot dibedakan menjadi otot antagonis dan otot sinergis. otot antagonis menyebabkan terjadinya gerak antagonis, yaitu gerak otot yang berlawanan arah. Jika otot pertama berkontraksi dan otot yang kedua berelaksasi, sehingga menyebabkan tulang tertarik / terangkat atau sebaliknya. Otot sinergis menyebabkan terjadinya gerak sinergis, yaitu gerak otot yang bersamaan arah. Jadi kedua otot berkontraksi bersama dan berelaksasi bersama.
Kerja Otot Manusia
Otot manusia bekerja dengan cara berkontraksi sehingga otot akan memendek, mengeras dan bagian tengahnya menggelembung membesar). Karena memendek maka tulang yang dilekati oleh otot tersebut akan tertarik atau terangkat. Kontraksi satu macam otot hanya mampu untuk menggerakkan tulang kesatu arah tertentu. Agar tulang dapat kembali ke posisi semula, otot tersebut harus mengadakan relaksasi dan tulang harus ditarik ke posisi semula. Untuk itu harus ada otot lain yang berkontraksi yang merupakan kebalikan dari kerja otot pertama. Jadi, untuk menggerakkan tulang dari satu posisi ke posisi yang lain, kemudian kembali ke posisi semula diperlukan paling sedikit dua macam otot dengan kerja yang berbeda.
Berdasarkan cara kerjanya, otot dibedakan menjadi otot antagonis dan otot sinergis. otot antagonis menyebabkan terjadinya gerak antagonis, yaitu gerak otot yang berlawanan arah. Jika otot pertama berkontraksi dan otot yang kedua berelaksasi, sehingga menyebabkan tulang tertarik / terangkat atau sebaliknya. Otot sinergis menyebabkan terjadinya gerak sinergis, yaitu gerak otot yang bersamaan arah. Jadi kedua otot berkontraksi bersama dan berelaksasi bersama.
Langganan:
Komentar (Atom)












